Dalam sejarah, Sungai Ciliwung punyai peran yang cukup besar dalam perkembangan Kota Jakarta, atau yang dahulunya dikenal dengan Batavia. Adalah hal yang wajar, bila sekarang Sungai Ciliwung dijadikan salah satu tujuan Objek Wisata yang bernilai sejarah di Kota Jakarta, ibu kota Republik Indonesia yang tercinta ini. Sayangnya, hanya sedikit orang yang punya pikiran untuk menjadikan Sungai Ciliwung sebagai Objek Wisata yang bernilai sejarah, dengan biaya yang sangat murah dan terjangkau. Salah satu dari sedikit orang itu adalah tokoh dari salah satu stasiun televisi swasta bernama Jhonny Pantau.
Tepatnya pada hari Minggu, tanggal 17 Januari 2010. Secara tidak sengaja, saya mengikuti sebuah tayangan acara unik bertajuk Jhonny Pantau (saya lupa stasiun televisinya, hehehehe). Dalam segmen pertama, sang tokoh Jhonny Pantau berkata : “Liburan kali ini kita awali dengan sebuah wahana tempat peristirahatan, yaitu sebuah pulau kecil.” (Semoga saya tidak salah mengutip kata – kata nya. Mohon maaf kalau salah, TIDAK DISENGAJA….).
Saya heran mendengar kata – katanya. Pulau kecil sebagai wahana peristirahatan, tapi mengapa latar belakang Jhonny Pantau waktu menyampaikan statement nya itu malah TUMPUKAN SAMPAH..?? Rasanya lucu dan tidak masuk akal, tapi apa salahnya saya terus mengikuti acara ini sampai selesai?? Ternyata pulau kecil yang dimaksud Jhonny Pantau sebagai wahana peristirahatan itu adalah delta Sungai Ciliwung yang terbentuk dari sekian juta sampah yang terbawa arus Sungai Ciliwung dalam kurun waktu yang tidak diketahui.
Dalam segmen kedua, Jhonny Pantau berkata : “Pemirsa, ada hal lain yang unik di tempat wisata ini. (Kameranya masih mengarah ke wajah Jhonny Pantau sehingga keadaan di sekiranya tidak terlihat.) Di sini, kalau kita cape naik perahu, sudah disediakan kasur yang empuk untuk berbaring.” (Lagi – lagi semoga saya tidak salah mengutip statemen nya…) KASUR YANG EMPUK??? Wah, ada yang kurang beres nih…. Mana ada kasur empuk untuk beristirahat di tengah Sungai Ciliwung??? Kamera pun berpindah dari wajah cakap Jhonny Pantau dan menyorot sebuah kasur using, yang terbuat dari kapuk, berwarna merah kecoklatan, yang entah sudah berapa lama hanyut dan terapung di sungai itu. Hahahahahahaha… Sampah berupa apa sih yang tidak ada di Sungai Ciliwung??? Kasur saja ada….
Di segmen ketiga, sampailah Jhonny Pantau di sebuah titik, yang disebutnya sebagai “Wahana Kuliner.” Ada lagi yang aneh nih… hehehehehehe. Kamera menyorot daerah pemukiman kumuh yang berada tepat di bantaran sungai. Ada kios kecil seadanya yang menghadap ke arah sungai.
“Apa yang bisa dimakan, Pak??” Jhonny Panta bertanya pada Pak tua pemilik kios kecil itu.
“Mie goreng ada, mie rebus juga ada, Bang…” Pak tua itu menjawab penuh semangat.
“Pesan mie goreng aja, Pak. Gak pake timun ya….” Pinta Jhonny Pantau sekenanya.
Sambil menunggu, kamera merekam situasi sekitar tempat pembuatan mie goreng yang dipesan itu. Ada seorang bapak lewat, hanya mengenakan handuk, menenteng ember. Kelihatannya warga sekitar tempat itu. Rupanya ada kamar mandi kecil tepat di samping “Wahana Kuliner” tersebut.
“Ini apa, Bu???” Jhonny Pantau bertanya pada seorang Ibu yang ada di situ sambil menunjuk ke arah tumpukan sampah di depannya.
“Sampah.” Ibu itu menjawab sambil tersenyum.
“Kenapa dibuang di sini??” Jhonny Pantau bertanya lagi.
“Yah, dari pada kalau dibuang ke depan, jalannya jauh dan ribet, mendingan buang ke sini aja, gampang…” Dhuerrrr….., jawaban Ibu itu membuat Jhonny Pantau tertawa terbahak – bahak. Ternyata kesadaran warga tentang pentingnya kebersihan dan akibat pembuangan sampah yang tidak benar masih sangat rendah. Sangat memprihatinkan.
Mie goreng pesanan pun datang. Tapi sepertinya setelah melihat situasi di sekitar “Wahana Kuliner” itu, selera makan Jhonny hilang. Mie goreng itu langsung diberikan kepada salah satu kru yang ikut dalam perjalanan itu. Wahana berikutnya adalah “Wahana Mencuci”. Jhonny pantau menemui seorang ibu yang b
aru selesai mencuci pakaian di air sungai yang keruh itu. Tidak jauh dari tempat ibu itu mencuci, ada wc umum alias wc darurat. Kotak kecil tanpa atap setinggi lutut orang dewasa yang dibagi menjadi dua, agar bisa menampung dua orang sekaligus. Ada dua orang bapak sedang “menjawab panggilan alam” di dalam wc darurat itu. Parahnya lagi, di belakang wc darurat itu, seorang Ibu tua sedang mencuci wajan alias perabot dapur. Hiiiiiiiyyyyyyyaaaaaaaaaaakkkkk…… sungguh…. Entah kata apalagi yang patut dipakai untuk melukiskan dituasi itu.Bayangkan pengaruh situasi itu untuk kesehatan masyarakat di lingkungan itu..!!
Bayangkan jumlah kerugian akibat banjir yang terjadi..!!
Bayangkan bentuk tata kota yang tak karuan akibat tumpukan sampah itu..!!
Sulit dipungkiri, bahwa Sungi Ciliwung yang bernilai sejarah itu kini menjadi satu titik hitam di wajah ibu kota negara kita.
Ada hal penting yang bisa dippelajari bersama dari tayangan televise ini. KESADARAN MASYARAKAT TENTANG KEBERSIHAN LINGKUNGAN, SAMPAH, DAN KAITANNYA DENGAN KESEHATAN MASIH SANGAT KURANG.
Rasanya tidak terlalu naïf jika saya menarik kesimpulan seperti ini : “APAPUN USAHA YANG DILAKUKAN PEMERINTAH, TIDAK AKAN BERHASIL DENGAN BAIK JIKA BELUM ADA KESADARAN DARI PRIBADI MASYARAKAT ITU SENDIRI.” Artinya, pribadi masyarakat dan kesadaran tentang lingkungan adalah hal yang paling penting dan paling mendasar untuk dibenahi. Jika masyarakat sudah sadar tentang itu, barulah pemerintah bisa lebih mudah mengambil langkah penanggulangan. Dengan begitu, wabah penyakit dan bencana banjir bisa ditanggulangi.
Demikian, semoga artikel ini berguna untuk kita semua.